PENTINGNYA ORGANISASI DAN PROGRAM BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan di bawah tanggung jawab Kepala Sekolah dan seluruh staf. Koordinator bimbingan dan konseling bertanggung jawab dalam menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara operasional. Personel lain yang mencakup Wakil Kepala Sekolah, Guru Pembimbing (konselor), guru bidang studi, dan wali kelas memiliki peran dan tugas masing-masing dalam penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling. Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran.

Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan, konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi siswa

  1. B.     RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimanakah organisasi dan program bimbingan konseling di sekolah menengah.
  1. C.    TUJUAN MAKALAH
    1. Untuk mengatahui bentuk dan program bimbingan konseling di sekolah menengah

BAB II

PEMBAHASAN

PENTINGNYA ORGANISASI DAN PROGRAM BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH

Pelayanan bimbingan dan konseling di setiap satuan pendidikan perlu dikelola secara baik. Pengelolaan ini meliputi adanya organisas yang jelas dan mantap. Para pelaksana yang setia pada kewajiban dan tugas-tugasnya, serta program yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan memiliki taraf keterlaksan aan yang tinggi.

  1. A.    ORGANISASI

Wawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian Organisasi pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi segenap unsur di sekolah, antara lain:

  1. Unsur Kanwil/Kandep, adalah personil yang bertugas melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
  2. Kepala Sekolah (bersama Wakil Kepala Sekolah), adalah penanggung jawab pendidikan di satuan pendidikan secara keseluruhan, termasuk pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
  3. Koordinator Bimbingan dan Konseling (bersama para Guru pembimbing), adalah pelaksana utama pelayanan bimbngan dan konseling di sekolah.
  4. Guru Mta pelajaran/Praktik, adalah pelaksana pengajaran dan/atau latihan di sekolah.
  5. Wali Kelas, adalah guru yang ditugasi secara khusus mengelola satu kelas siswa tertentu.
  6. Siswa, adalah peserta didik yang menerima pelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan konseling di sekolah.
  7. Tata Usaha, adalah pembantu kepala sekolah dalam penyelanggaraan administrasi dan ketatausahaan sekolah.
  8. Pengawas Sekolah Bidang BK, adalah pejabat fungsional yang bertugas menyeleggarakan pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.
  9. BP3 (Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan), adalah organisasi orang tua siswa yang berperan membantu penyelenggaraan satuan pendiikan yang bersangkutan
  1. 1.      Personil Pelayanan

Personil pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling adalah segena unsur yang terkait di dalam organisasi pelayanan bimbingan dan konseling, dengan koordinator dan Guru Pembimbing sebagai pelajksana utamanya. Uraian tugas masing-masing personil tersebut, khususnya dalam kaitannya dengan pelayanan bimbingan dan konseling, adlah sebagai berikut;

1)      Kepala Sekolah

Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan secara menyeluruh, khususnya pelayanan bimbingan dan konseling, tugas kepala sekolah adalah:

  1. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah, sehingga pelayananan pengajaran, latihan, bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis.
  2. Menyediakan prasana, tenaga, sarana, dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan konseling yang efektif dan efisien.
  3. Melakukan pendan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling.
  4. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah kepada Kanwil/Kandep yang menjadi atasannya.

2)      Wakil kepala sekolah

Sebagai pembantu kepala sekolah, wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepala sekolah.

3)      Koordinator Bimbingan dan Konseling

Koordinator Bimbingan dan Konseling bertugas:

  1. Mengkoordinasikan para Guru Pembimbing dalam:

-          Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada segenap warga sekolah (siswa, guru, dan personil sekolah lainnya) orang tua siswa, dan masyarakat.

  1. Menyusun program kegiatan bimbingan dan konseling (program satuan layanan dan kegiatan pendukung, program mingguan, bulanan, caturwulanan, dan tahunan)
  2. Melaksanakan program bimbingan dan konseling
  3. Mengadministrasikan program kegiatan bimbingan dan konseling
  4. Menilai hasil pelaksanaan program kegiatan bimbingan dan konseling
  5. Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan bimbingan dan konseling
  6. Memberikan tindak lanjut terhadap analisis hasil penilaian bimbingan dan konseling
  7. Mengusulkan kepada kepala sekolah dan mengusahakan bagi terpenuhinya tenaga, prasarana, alat dan perlengkapan bimbingan dan konseling.
  8. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Kepala Sekolah.

4)      Guru Pembimbing

Sebagai pelaksana utama, tenaga inti dan ahli, Guru Pembimbing bertugas:

  1. Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling.
  2. Merencanakan program bimbingan dan konseling Dalam satuan layanan bimbingan dan konseling.
  3. Melaksanakan segenap program satuan layanan bimbingan dan konseling.
  4. Melaksanakan segenap program satuan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.
  5. Menilai proses dan hasil pelaksanaan satuan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.
  6. Menganalisis hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.
  7. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.
  8. Mengadministrasikan kegiatan satuan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakan.
  9. Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluruh kepada Koordinator BK serta Kepala Sekolah.

5)      Guru Mata Pelajaran dan Guru Praktik

Sebagai tenaga ahkli pengajaran dan/atau praktik dalam bidang studi tertentu, dan sebagai personil yang sehari-hari langsung berhubungan dengan siswa, peranan Guru Mata pelajaran dan Guru Praktik dalam pelayanan bimbingan dan konseling adalah:

  1. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
  2. Membantu guru pembimbing mengidentifikasikan siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
  3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing.
  4. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing yaitu siswa yang menurut Guru Pembimbin memerlukan pelayanan pengajaran/latihan khusus.
  5. Membantu mengembangkan  suasana kelas, hubungan guru siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
  6. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
  7. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
  8. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling upaya tindak lanjutnya.

6)      Wali Kelas

Sebagai pengelola kelas tertentu, dalam pelayanan bimbingan dan konseling Wali kelas berperan:

  1. Membantu guru pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
  2. Membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalm pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
  3. Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling.
  4. Berpartisipasi aktif dlam kegiatan khusus bimbingan dan konseling, seperti konferensi kasus.
  5. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru pembimbing.
  1. 2.      Struktur Organisasi

Organisasi pelayan bimbingan dan konseling terentang secara vertical, dari para pengambil kebijaksanaan yang paling tinggi sampai para pelaksana dan pembantu pelaksana yang terbawah , dan secara horizontal yang mencakup pihak yang dapat memberikan kemudahan bagi penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling yang mantap dan berkelanjutan. Organisasi yang mencakup unsur-unsur vertical maupun horizontal itu dikehendaki dapat memenuhi berbagai tuntutan:

  1. Menyeluruh, yaitu mencakup unsur-unsur penting, baik vertical maupun horizontal, sehingga mampu sebesar-besarnya memadukan berbagai kebijaksanaan dan pelaksanaanya, serta berbagai sumber yang berguna bagi pelayanan bimbingan dan konseling.
  2. Sederhana, sehingga jarak antara penetepan kebijaksanaan dan upaya pelaksanaanya tidak terlampau panjang. Keputusan dapat dengan cepat tetapi dengan pertimbangan yang cermat di ambil, dan pelaksanaan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling terhindar dari urusan birokrasi yang tidak perlu.
  3. Luwes dan Terbuka, sehingga mudah menerima masukan dan upaya pengembangan yang berguna bagi pelaksanaan tugas-tugas organisasi, yang semuanya itu bermuara pada kepentingan seluruh peserta didik.
  4. Menjamin berlangsungnya kerja sama, sehingga semu unsur dapat saling menunjang dn semua upaya serta semua sumber dapat dikoordinasikan demi kelanjaran dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling untuk kepentingan peserta didik.
  5. Menjamin terlaksananya pengawasan, penilaian, dan upaya tindak lanjut, sehingga perencanaan , pelaksanaan dan penilaian program bimbingan dan konseling yang berkualitas dapat terus dimantapkan. Pengawasan dan penilaian hendaknya dapat berlangsung secara vertical (dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas), dan secara horizontal (penilaian sejawat).

Struktur organisasi pelayanan  bimbingan dan konseling pada setiap satuan pendidikan dapat tidak sama, masing-masing disesuaikan menurut kondisi satuan pendidikan yang bersangkutan. Bagaimanapun juga bentuk dan kelengkapan organisasi pada satuan pendidikan itu, masing-masing dikehendaki dapat memenuhi kelima tunututan di atas.

Untuk setiap personil yang diidentifikasikan itu ditetapkan tugas, wewenang, dan tanggung jawa masing-masing yang terkait langsung dalam keseluruhan organisasi pelayanan bimbingan dan konseling. Tugas, wewenang dan tanggung jawab guru pembimbing sebagai tenaga inti pelayanan bimbingan dan konseling dikaitkan dengan rasioa antara seorang guru pembimbing dan jumlah peserta didik yang menjadi tanggung jawab langsungnya. Guru kelas, sebagai tenaga pembimbing bertanggung jawab atas pelaksanaan bimbingan dan konseling terhadap seluruh peserta didik di kelasnya.

Berhubungan dengan jenjang dan jenis pendidikan serta besar kecilnya satuan pendidikan, jimlah dan kualifikasi personil (khusus personil sekolah) yang dapat dilibatkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling pada setiap satuan pendidikan dapat tidak sama. Dalam kaitan itu, tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing personil di setiap satuan pendidikan disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan yang bersangkutan tanpa mengurangi tuntutan akan efektifitas dan efesiensi pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluruh untuk kepentingan peserta didik.

  1. B.     PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING

 

Pengorganisasian Program

Program-program bimbingan dan konseling merupakan isi dari keseluruhan organisasi bimbingan dan konseling di sekolah. Program-program ini perlu disusun dengan memperhatikan pola umum bimbingan dan konseling dan berbagai kondisi yang terdapat di lapangan.

  1. 1.      Jenis program

Sebagaimana telah dikemukakan, jenis-jenis program bimbingan dan konseling di sekolah meliputi program-program satuan layanan dan satuan kegiatan pendukung, program mingguan, bulanan, caturwulanan, dan tahunan. Dalam pengorganisasian program-program tersebut yang harus menjadi perhatian utama ialah upaya penyusunan dan pelaksanaan   program-program satuan layanan dan satuan pendukung. Guru pembimbinh dan guru kelas diwajibkan menyusun dan menyelenggarakan program-program satuan layanan / pendukung tersebut. Bahkan, tugas sehari-hari. Guru pembimbing adalah menyusun dan menyelenggarakan program-program satuan layanan/pendukung itu.

Program-program mingguan, bulanan, caturwulanan dan tahunan tidak sepenting penyusunan dan pelaksanaan program-program satuan layanan/pendukung. Namun demikian, program-program  yang menyangkut satuan waktu tertentu itu perlu disusun juga untuk mengetahui secara menyeluruh ruang lingkup kegiatan bimbingan dan konseling peda satuan waktu tertentu.

Organisasi bimbingan dan konseling yang mantap akan memberikan kemungkinan yang sebesar-besarnya bagi tersusun dan terselenggaranya berbagai jenis program bimbingan dan konseling.

  1. 2.      Syarat-syarat program

Kegiatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan di sekolah tidaklah dipilih secara acak, namun melalui pertimbangan yang matang dan terpadukan dalam program pelayanan bimbingan dan konseling yang hendaknya:

  1. Berdasarkan kebutuhan, bagi pengembangan peserta didiksesuai dengan kondisi pribadinya, serta jenjeng dan jenis pendidikannya.
  2. Lengkap dan menyeluruh, memuat segenap fungsi bimbingan, meliputi semua jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta menjamin dipenuhinya prinsip dan asas-asas bimbingan dan konseling. Kelengkapan program ini disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan.
  3. Sistematik, dalam arti program disusun menurut urutan logis, tersinkronisasi dengan menghindari tumpang tindih yang tidak perlu, serta dibagi-bagi secara logis.
  4. Terbuka dan luwes, sehingga mudah menerima masukan untuk pengembangan dan penyampurnaanya, tanpa harus merombak program itu secara menyeluruh.
  5. Memungkinkan kerja sama, yaitu dengan semua pihak yang terkait dalam rangka sebesar-besarnya memanfaatkan berbagai sumber dan kemudahan yang tersedia bagi kelanjaran dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling.
  6. Memungkinkan diselenggarakannya penilaian dan tindak lanjut, untuk penyempurnaan program pada khususnya, dan peningkatan keefektifan dan keefisienan penyelenggaraan program bimbingan dan konseling pada umumnya.

Berhubungan dengan adanya perbedaan jenis dan program serta besar kecilnya satuan pendidikan. Program pelayanan bimbingan dan konseling pada setiap satuan pendidikan dapat tidak sama. Variasi ini pertama-tama perlu ada berkenaan dengan karakteristik peserta didik dan berbagai kebutuhannya, serta karakteristik program pembelajaran pada satuan pendidikan yang bersangkutan.

  1. 3.      Program Pelayanan

Program pelayanan bimbingan dan konseling disusun berdasarkan kebutuhan, lengkap dan menyeluruh, sistematik, terbuka dan luwes, memungkinkan bekerja sama, dan memungkinkan diselenggarakannya penilaian dan tindak lanjut.

  1. Perencanaan

Program pelayanan bimbingan konseling direncanakan berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dirasakan oleh siswa asuh (untuk Guru Pembimbing tertentu) dan seluruh siswa pada umumnya serta pihak-pihak lain yang sangat berkepentingan dengan perkembangan siswa secara optimal. Program ini meliputi semua jenis layanan dengan berbagai kegiatan pendukungnya, disusun dalam rencana yang jelas, baik rinciannya maupun jangka waktunya, yaitu program satuan layanan/pendukung, mingguan, bulanan, caturwulanan, satu tahu penuh.

Agar rencana program itu selalu menjadi perhatian bagi para pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling, maka rencana tersebut hendaknya terbuka bagi pihak-[ihak yang berkepentingan.

  1. Persiapan Pelaksanaan

Program yang sudah direncanakan itu harus dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan nyata. Kegiatan itu memerlukan persiapan yang matang, baik menyangkut penyiapan satuan layanan/kegiatannya, tenaga pelaksana, sarana penunjang dengan berbagai alat dan perlengkapannya, maupun sasaran dari layanan/kegiatan yang direncanakan itu. Layanan/kegiatan ini akan lebih efektif apabila para pelaksanaya, dalam hal ini giru pembimbimng tidak hanya mempersiapkan layanan/kegiatan yang dimkasudkan itu dibelakang meja saja, tetapi langsung terjun di lapangan menemui objek atau subjek yang akan menjadi sasaran layanan/kegiatan.

  1. Penilaian dan Tindak lanjut

Penilaian dan tindak lanjut kegiatan bimbingan dan konseling perlu diprogramkan dan disiapkan dengan baik. Hal ini penting agar seluruh program pelayanan yang telah direncanakan itu bersifat dinamis dan dapat diperkembangkan secara berkelanjutan.

  1. 4.      Operasionalisasi Program

Program-program bimbingan dan konseling yang telah direncankan itu tidak mungkin terlaksana apabila tidak ditunjang oleh tenaga, prasarana, sarana, dan perlengkapan yang memadai. Hal-hal pokok yang harus mendapatkan perhatian demi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang baik adalah tenaga, prasarana dan sarana, waktu, kerja sama, suasana profesional, dan dana.

  1. Tenaga

Tenaga utama dalam pelayanan bimbingan dan konseling adalah Guru Pembimbing yang merupakan tenaga profesional. Tenaga ini hendaklah memiliki modal personal dan modal professional yang dapat diandalkan untuk tugas-tugas professional bimbingan dan konseling itu. Rasio antara guru pembimbing dan siswa SLTP adalah 1 : 150. Seorang guru pembimbing diberi tugas/tanggungjawab penuh melakukan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap 150 orang siswa.

  1. Prasarana

Prasana pokok yang diperlukan ialah ruangan yang cukup memadai srta perabotannya. Ruangan ini hendaknya sedemikian rupa sehingga di satu segi para siswa yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa senang, dan di segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan layanan dan kegiatan bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling.

Di dalam ruangan itu hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumrntasi bimbingan dan konseling, himpunan data siswa, dan berbagai data serta informasi lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti penampilan informasi pendidikan dan jabatan, informasi tentang kegiatan ekstra kurikuler, dan sebagainya.

Yang tidak kalah pentingnya ialah, ruangan itu hendaklah nyaman dan menyebabkan para pelaksanaan bimbingan dan konseling betah bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan pelayanan yang terselenggara.

  1. Sarana

Sarana yang diperlukan untuk penunjang pelayanan bimbingan dan konseling ialah:

1)      Alat pengumpul data, baik tes maupun non-tes

2)      Alat menyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data.

3)      Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informaasi, paket bimbingan, alat bantu bimbingan.

4)      Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blangko laporan kegiatan.

  1. Waktu

Penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling memerlukan waktu yang cukup. Oleh karena itu, perlu disediakan waktu dan kesempatan yang memadai bagi terselenggaranya segenap jenis layanan bimbingan dan konseling dengan berbagai kagiatan pendukungnya itu.

Waktu di luar jam-jam pelajaran (jam sekolah) perlu disediakan dan diatur dengan baik bagi terselenggaranya layanan bimbingan dan konseling serta kegiatan pendukungnya.

  1. Kerjasama

Sebagaimana telah disinggung terdahulu (dalam organisasi dan personil), pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif memerlukan kerja sama semua pihak yang berkepentingan dengan kesuksesan pelayanan itu. Kerja sama antara personil sekolah dengan tugas dan peranan masing-masing dalam pelayanan bimbingan dan konseling adalah sangat vital. Tanpa kerja sama antarpersonil itu, kegiatan bimbingan dan konseling akan banyak mengalami hambatan.

Demikian juga kerja sama denga orang tua siswa. Seluruh siswa di sekolah, para ahli lain yang sangat diperlukan dalam rangka alih tangan kasus, dan berbagai lembaga serta pihak-pihak lain masyarakat pada umumnya, semua akan lebih menjamin keberhasilan upaya bimbingan dan konseling.

  1. Suasana Profesional

Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pelayanan professional. Sehingga pelaksanaanya memerlukan suasana prifesional. Suasana ini akan terwujud apabila para pelaksananya adalah tenaga professional, dan kegiatannya dilandasi oleh asas-asas serta kode etik professional

Lebih dari itu, pihak-pihak lain “di luar” kegiatan bimbingan dan konseling menyokong tumbuhnya suasana professional itu dengan jalan mengembangkan suasana yang memungkinkan para pelaksana bimbingan dan konseling bekerja sesuai dengan keahliannya di satu segi, dan di segi lain menyelenggarakan kerja sama sesuai dengan tugas dan peranan masing-masing sebagaimana telah dikemukakan terdahulu.

  1. Dana

Dana diperlukan bagi penyediaan prasarana dan sarana yang menadai. Juga untuk keperluan lain, seperti perlengkapan lain, seperti perlengkapan administrasi, kunjungan rumah, penyusunan laporan kegiatan. Dalam hal ini perlu diingatkan bahwa kekurangan dana tidak selayaknya mengendorkan semangat para pelaksananya untuk menyelenggarakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebelum membentuk suatu program bimbingan ada hal – hal pentingyang harus diperhatikan terlebih dahulu sebagaiman Frank. W. Millermenyarankan sebagai berikut :

a)      Tahap persiapan, dalam tahap ini yang dilakukan adalah melalui surveiuntuk menginventarisasi tujuan, kebutuhan dan kemampuan sekolah sertakesiapan sekolah bersangkutan untuk melaksanakan program bimbingan.

b)      Pertemuan – pertemuan permulaan yaitu tahap yang tujuan utamanyaadalah untuk menanamkan pengertian bagi para peserta tentang tujuandari program bimbingan di sekolah. Dan pertemuan ini melibatkanpetugas – petugas yang berminat dan tertarik serta memiliki kemampuandalam bidang bimbingan dan konseling.

c)      Pembentukan panitia sementara, tahap ini adalah bertujuan untukmerumuskan program bimbingan

Tugas – tugas dari panitia sementara ini adalah :

  • Menentukan tujuan program bimbingan di sekolah.
  • Mempersiapkan bagan organisasi dari program bimbingan.
  • Membuat kerangka dasar dari program bimbingan dan konseling.

Pembentukan panitia penyelenggaraan program. Panitia penyelenggaraan program mempunyai tugas utama yaitu:

1) Mempersiapkan program testing

2) Mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan

3) Mempersiapkan dan melaksanakan latihan bagi para pelaksanaprogram bimbingan

Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru emosional kelas yang kondusif bagi belajar siswa, memahami karakteristik siswa yang unik dan mata pelajaran. Aspek-aspek itu di antaranya :

a)      menciptakan sekolah dengan iklim sosio- beragam.

b)       menandai siswa yang diduga bermasalah.

c)      membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching.

d)     mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing.

e)      memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa.

f)       memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja).

g)      menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur central” bagi siswa).

h)      memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif.

Hambatan-Hambatan dalam Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling

  1. Pelaksana bimbingan di sekolah tidak mempunyai waktu yang cukup memadai untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan program BK.
  2. Pelaksana bimbingan dan konseling memiliki latar belakang pendidikan yang bervariasi baik ditinjau dari segi jenjang maupun programnya, sehingga kemampuannya pun dalam mengevaluasi pelaksanaan program BK sangat bervariasi termasuk dalam menyusun, membakukan dan mengembangkan instrumen evaluasi.
  3. Belum tersedianya alat-alat atau instrument evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah yang valis, reliable, dan objektif.
  4. Belum diselenggarakannya penataran, pendidikan, atau pelatihan khusus yang berkaitan tentang evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling pada umumnya, penyusunan dan pengembangan instrumen evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah
  5. Penyelenggaraan evaluasi membutuhkan banyak waktu dan uang. Tidak dapat diragukan lagi untuk memulai mengadakan evaluasi tampaknya memerlukan baya yang cukup mahal dan perlu biaya yang banyak.
  6. Belum adanya guru inti atau instruktur BK yg ahli dlm bidang evaluasi pelaksanaan peogram BK di sekolah. Sampai saat ini kebanyakan yg terlibat dlm bidang ini adalah dari perguruan tinggi yang sudah tentu konsep dan kerangka kerjanya tidak berorientasi kepada kepentingan sekolah
  7. Perumusan kriteria keberhasilan evaluasi pelaksanaan bimbingan dan yang tegas dan baku belum ada sampai saat ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN

 

  1. 1.      ORGANISASI
    1. a.      Personil Pelayanan

Personil pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling adalah segena unsur yang terkait di dalam organisasi pelayanan bimbingan dan konseling, dengan koordinator dan Guru Pembimbing sebagai pelajksana utamanya. Uraian tugas masing-masing personil tersebut, khususnya dalam kaitannya dengan pelayanan bimbingan dan konseling, adlah sebagai berikut;

1)      Kepala Sekolah

2)      Wakil kepala sekolah

3)      Koordinator Bimbingan dan Konseling

4)      Guru Pembimbing

5)      Guru Mata Pelajaran dan Guru Praktik

6)      Wali Kelas

  1. b.      Struktur Organisasi

Organisasi pelayan bimbingan dan konseling terentang secara vertical, dari para pengambil kebijaksanaan yang paling tinggi sampai para pelaksana dan pembantu pelaksana yang terbawah , dan secara horizontal yang mencakup pihak yang dapat memberikan kemudahan bagi penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling yang mantap dan berkelanjutan.

 

  1. 2.      PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
    1. a.      Pengorganisasian Program

Program-program bimbingan dan konseling merupakan isi dari keseluruhan organisasi bimbingan dan konseling di sekolah. Program-program ini perlu disusun dengan memperhatikan pola umum bimbingan dan konseling dan berbagai kondisi yang terdapat di lapangan.

  1. b.      Jenis program

Sebagaimana telah dikemukakan, jenis-jenis program bimbingan dan konseling di sekolah meliputi program-program satuan layanan dan satuan kegiatan pendukung, program mingguan, bulanan, caturwulanan, dan tahunan

  1. c.       Syarat-syarat program

Kegiatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan di sekolah tidaklah dipilih secara acak, namun melalui pertimbangan yang matang dan terpadukan dalam program pelayanan bimbingan dan konseling yang hendaknya:

  • Berdasarkan kebutuhan.
  • Lengkap dan menyeluruh
  • Sistematik.
  • Terbuka dan luwes
  • Memungkinkan kerja sama.
  • Memungkinkan diselenggarakannya penilaian dan tindak lanjut.
  1. d.      Program Pelayanan

Program pelayanan bimbingan dan konseling disusun berdasarkan kebutuhan, lengkap dan menyeluruh, sistematik, terbuka dan luwes, memungkinkan bekerja sama, dan memungkinkan diselenggarakannya penilaian dan tindak lanjut.

  1. e.       Operasionalisasi Program

Program-program bimbingan dan konseling yang telah direncankan itu tidak mungkin terlaksana apabila tidak ditunjang oleh tenaga, prasarana, sarana, dan perlengkapan yang memadai.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2136996-program-bimbingan-konseling-di-sekolah/#ixzz1c3PxEWlZ

Organisasi Pelayanan Bimbingan dan Konseling (Struktur Organisasi dan Peran Personil Bimbingan Konseling) | »BlackBlogger™ http://sefrian92.blogspot.com/2011/02/organisasi pelayanan bimbingan dan html ixzz1 c3OT8HM5

Prof. Dr. Prayitno. M.Sc.Ed,dkk.1997. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT.Ikrar Mandiri.

 

 

About these ads
By muhammadhasan811 Lombok Posted in BK

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s